Industri komponen otomotif menghadapi perubahan besar akibat pertumbuhan kendaraan listrik atau EV. Produsen dituntut beradaptasi melalui teknologi, diversifikasi, dan penguatan rantai pasok.

Industri komponen otomotif tengah menghadapi perubahan besar seiring semakin berkembangnya kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Perubahan teknologi pada kendaraan membuat kebutuhan komponen ikut bergeser, sehingga produsen suku cadang perlu menyesuaikan kemampuan produksi dan strategi bisnis.

Di Indonesia, perkembangan kendaraan listrik juga mulai memberikan dampak terhadap rantai pasok otomotif. Pemerintah mendorong industri komponen lokal, termasuk industri kecil dan menengah (IKM), agar dapat masuk ke dalam ekosistem kendaraan listrik dan meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri.

Perubahan tersebut bukan berarti seluruh komponen kendaraan konvensional langsung kehilangan pasar. Kendaraan dengan mesin pembakaran internal (ICE) masih memiliki populasi besar dan membutuhkan suku cadang. Namun, produsen komponen kini perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan teknologi dalam jangka panjang.

Perkembangan Kendaraan Listrik Mengubah Kebutuhan Komponen

Kendaraan listrik memiliki konstruksi yang berbeda dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal. Mobil listrik berbasis baterai tidak menggunakan mesin pembakaran, transmisi konvensional yang kompleks, sistem knalpot, maupun sejumlah komponen yang umum ditemukan pada kendaraan ICE.

Sebaliknya, EV membutuhkan komponen seperti baterai, motor listrik, inverter, sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS), komponen elektronik, sensor, serta perangkat pengisian daya.

Perubahan tersebut membuat industri komponen otomotif harus melihat kembali portofolio produknya.

Kemenperin mencatat kendaraan listrik dan hybrid memiliki kebutuhan semikonduktor yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional. Pada 2025, produksi kendaraan bermotor Indonesia mencapai 803.867 unit, termasuk kendaraan listrik dan hybrid.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi otomotif bukan hanya mengenai perubahan jenis kendaraan, tetapi juga perubahan teknologi yang digunakan di dalam kendaraan.

Pasar Komponen EV Mulai Membuka Peluang Baru

Pertumbuhan kendaraan listrik memberikan peluang baru bagi produsen komponen yang mampu menyesuaikan diri.

Di Indonesia, penjualan mobil listrik berbasis baterai pada kuartal I 2026 mencapai 33.150 unit atau meningkat 95,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data Gaikindo yang dikutip Kemenperin. Pada Februari 2026, populasi kendaraan listrik roda dua tercatat mencapai 236.451 unit.

Pertumbuhan tersebut menciptakan kebutuhan terhadap berbagai komponen pendukung kendaraan listrik.

Peluang tidak hanya terbuka bagi produsen baterai dan motor listrik. Industri komponen juga dapat mengembangkan produk seperti:

  • Housing baterai
  • Bracket baterai
  • Komponen plastik
  • Kabel dan konektor
  • Komponen elektronik
  • Sistem pendingin
  • Komponen interior
  • Sistem pengereman
  • Komponen bodi
  • Mold dan dies
  • Perangkat pendukung sistem kelistrikan

Kemenperin pada 2026 bahkan mencatat adanya IKM yang telah memproduksi box baterai dan bracket baterai untuk kendaraan listrik nasional.

Produsen Komponen Dituntut Beradaptasi

Perubahan teknologi membuat kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting bagi perusahaan komponen otomotif.

Produsen tidak cukup hanya mempertahankan produk yang sudah ada. Mereka perlu mempelajari kebutuhan kendaraan listrik, meningkatkan kemampuan produksi, mengembangkan sumber daya manusia, dan memahami standar kualitas yang dibutuhkan oleh produsen kendaraan.

Kemenperin mendorong IKM komponen untuk tidak berhenti pada tahap pembinaan, tetapi mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok dan masuk ke rantai pasok secara berkelanjutan.

Dengan demikian, transformasi menuju kendaraan listrik juga menjadi kesempatan bagi industri komponen untuk meningkatkan kemampuan teknologi.

Perbedaan Komponen Mobil Konvensional dan Mobil Listrik

Perubahan kebutuhan komponen dapat dilihat dari perbedaan struktur kendaraan.

Komponen/TeknologiKendaraan ICEKendaraan Listrik
Mesin pembakaranAdaTidak ada pada BEV
Baterai traksiTidak menjadi sumber penggerak utamaMenjadi sumber energi utama
Motor listrikUmumnya sebagai komponen pendukungMenjadi sistem penggerak
Sistem knalpotAdaTidak ada pada BEV
InverterTidak seperti pada BEVKomponen penting
BMSTidak digunakan untuk baterai traksiPenting untuk pengelolaan baterai
Sistem elektronikAdaLebih dominan
SemikonduktorDigunakanKebutuhan cenderung lebih tinggi
Sistem pengisianTidak seperti EVMenjadi bagian penting

Tabel tersebut menggambarkan mengapa peralihan ke EV dapat mengubah komposisi permintaan dalam industri komponen.

Komponen Konvensional Masih Memiliki Pasar

Meskipun EV terus berkembang, industri komponen kendaraan konvensional belum serta-merta kehilangan pasar.

Jumlah kendaraan bermesin pembakaran yang sudah beredar masih sangat besar. Kendaraan tersebut tetap membutuhkan perawatan dan penggantian komponen selama masa pakainya.

Karena itu, segmen aftermarket masih menjadi salah satu peluang penting bagi produsen komponen.

GIAMM menyebut industri komponen nasional juga memanfaatkan pasar replacement part sebagai salah satu strategi bisnis. Jumlah kendaraan yang sudah beroperasi menjadi salah satu faktor yang menopang kebutuhan suku cadang pengganti.

Bagi produsen, kondisi ini membuka kemungkinan menjalankan dua strategi sekaligus: mempertahankan bisnis komponen kendaraan konvensional sambil mulai mengembangkan produk untuk kendaraan listrik.

Diversifikasi Produk Menjadi Strategi Penting

Salah satu cara menghadapi perubahan pasar adalah melakukan diversifikasi.

Produsen komponen yang sebelumnya hanya mengandalkan produk untuk kendaraan ICE dapat mulai memetakan komponen yang memiliki peluang digunakan pada EV.

Tidak semua perusahaan harus langsung memproduksi komponen berteknologi tinggi seperti baterai atau inverter. Produsen dapat memulai dari komponen yang sesuai dengan kemampuan manufakturnya.

Misalnya, perusahaan yang memiliki keahlian pada proses stamping dapat mengembangkan bracket atau rumah komponen. Perusahaan dengan kemampuan injection molding dapat mengembangkan komponen plastik untuk kendaraan listrik.

Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan beradaptasi secara bertahap.

Kualitas dan Standar Produksi Semakin Penting

Masuk ke rantai pasok kendaraan listrik membutuhkan standar kualitas yang tinggi. Produsen komponen tidak hanya harus mampu menghasilkan produk dalam jumlah besar, tetapi juga harus memenuhi spesifikasi dan konsistensi kualitas yang ditetapkan oleh produsen kendaraan.

Kemenperin dalam program pengembangan IKM kendaraan listrik menekankan pentingnya peningkatan kemampuan teknologi, kualitas, produktivitas, serta akses pasar agar IKM dapat menjadi bagian dari rantai pasok EV.

Artinya, transformasi industri bukan hanya soal membeli mesin baru. Perusahaan juga perlu meningkatkan sistem pengendalian kualitas, sertifikasi, kemampuan engineering, hingga kompetensi tenaga kerja.

SDM Otomotif Juga Perlu Mengikuti Perubahan

Perubahan teknologi kendaraan membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja juga ikut berubah.

Teknisi dan pekerja industri komponen tidak hanya perlu memahami mekanik konvensional, tetapi juga harus mulai memahami sistem kelistrikan, elektronika, baterai, sensor, perangkat lunak, hingga sistem keselamatan kendaraan listrik.

Kemenperin juga menjalankan program pelatihan yang mencakup pengenalan komponen, analisis kerusakan, perawatan kendaraan listrik, praktik servis dan maintenance, serta standar keselamatan kerja.

Pengembangan SDM menjadi bagian penting karena industri EV membutuhkan kombinasi kemampuan mekanik dan elektronik.

Rantai Pasok Lokal Menjadi Perhatian

Pertumbuhan EV juga mendorong pemerintah memperkuat rantai pasok dalam negeri.

Kemenperin menyebut penguatan rantai pasok domestik diperlukan untuk meningkatkan TKDN sekaligus memperkuat struktur industri nasional. Pemerintah juga mempertemukan IKM komponen dengan produsen kendaraan listrik untuk membuka peluang kemitraan.

Langkah tersebut memberikan peluang kepada produsen komponen lokal untuk masuk ke rantai pasok kendaraan listrik.

Pada Agustus 2026, Kemenperin menyebut dua IKM binaannya telah memproduksi box baterai dan bracket baterai untuk Molinas Alva. Contoh tersebut menunjukkan bahwa peluang bagi industri lokal tidak hanya berada pada komponen kendaraan konvensional.

Industri Komponen Indonesia Tetap Punya Peluang Ekspor

Transformasi menuju kendaraan listrik juga terjadi ketika industri komponen Indonesia sudah memiliki keterlibatan dalam rantai pasok global.

GIAMM menyebut industri komponen otomotif Indonesia mengekspor produknya ke lebih dari 100 negara sepanjang 2025 dengan nilai lebih dari US$7 miliar. Pasar ekspor utama mencakup Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN.

Kondisi ini memberikan peluang bagi perusahaan yang mampu menyesuaikan produk dengan perkembangan teknologi kendaraan global.

Kemampuan memenuhi standar internasional menjadi semakin penting karena persaingan industri komponen tidak hanya terjadi di pasar domestik.

Tantangan yang Harus Dihadapi Produsen

Transformasi menuju EV juga menghadirkan sejumlah tantangan.

Beberapa di antaranya adalah kebutuhan investasi, penguasaan teknologi baru, pengembangan SDM, persaingan dengan produsen global, serta ketergantungan terhadap sejumlah bahan baku dan komponen teknologi tinggi.

Kemenperin juga menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor semikonduktor dan mesin industri. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam membangun ekosistem otomotif berteknologi tinggi.

Karena itu, transformasi industri komponen perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan masing-masing perusahaan.

Strategi Industri Komponen Menghadapi Era EV

Berikut sejumlah langkah yang dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi industri komponen:

  1. Memetakan produk yang berpotensi digunakan pada EV
    Produsen dapat mengidentifikasi produk yang masih relevan dan komponen baru yang memiliki peluang pertumbuhan.
  2. Mengembangkan kemampuan engineering
    Penguasaan desain dan pengembangan produk menjadi semakin penting untuk memenuhi kebutuhan kendaraan modern.
  3. Meningkatkan kompetensi SDM
    Pelatihan mengenai elektrifikasi, elektronika, baterai, dan keselamatan kendaraan dapat membantu perusahaan menghadapi perubahan teknologi.
  4. Meningkatkan kualitas produksi
    Konsistensi kualitas menjadi syarat penting untuk masuk ke rantai pasok produsen kendaraan.
  5. Membangun kemitraan dengan APM
    Kerja sama langsung dengan produsen kendaraan dapat membuka peluang pemasokan komponen lokal.
  6. Memperkuat pasar aftermarket
    Produsen dapat tetap memanfaatkan kebutuhan suku cadang kendaraan yang sudah beredar sembari mempersiapkan produk EV.
  7. Mengejar pasar ekspor
    Kemampuan memenuhi standar internasional dapat membuka peluang menjadi pemasok dalam rantai pasok global.

Masa Depan Industri Komponen Otomotif

Perubahan menuju kendaraan listrik tidak harus dilihat hanya sebagai ancaman bagi industri komponen otomotif. Pergeseran teknologi juga menciptakan kategori produk dan kebutuhan baru.

Data perkembangan EV di Indonesia menunjukkan bahwa peluang tersebut semakin nyata. Pemerintah mencatat penjualan BEV yang meningkat signifikan pada kuartal I 2026, sementara industri juga mulai memperluas keterlibatan IKM dalam rantai pasok kendaraan listrik.

Di sisi lain, industri komponen konvensional masih memiliki pasar karena kendaraan ICE yang sudah beredar tetap membutuhkan perawatan dan suku cadang. GIAMM juga mencatat kinerja industri komponen pada 2026 mendapatkan dukungan dari pertumbuhan pasar kendaraan domestik dan ekspor.

Dengan kondisi tersebut, masa depan industri komponen kemungkinan akan diwarnai oleh kombinasi berbagai teknologi, bukan perubahan secara instan dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik.

Kesimpulan

Industri komponen otomotif sedang memasuki fase transformasi akibat perkembangan kendaraan listrik. Perubahan struktur kendaraan membuat sejumlah komponen konvensional berkurang kebutuhannya, sementara permintaan terhadap baterai, sistem elektronik, semikonduktor, motor listrik, inverter, BMS, dan berbagai komponen pendukung mulai berkembang.

Di Indonesia, pemerintah mendorong industri komponen lokal dan IKM agar dapat mengambil bagian dalam rantai pasok kendaraan listrik. Pada saat yang sama, industri komponen konvensional masih memiliki peluang melalui pasar aftermarket dan ekspor.

Bagi produsen, kemampuan beradaptasi akan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan tersebut. Investasi teknologi, pengembangan SDM, peningkatan kualitas, diversifikasi produk, serta kemitraan dengan produsen kendaraan dapat menjadi langkah untuk mempertahankan daya saing di tengah perubahan industri otomotif.

Era EV dengan demikian bukan hanya mengubah kendaraan yang digunakan masyarakat, tetapi juga mengubah cara industri komponen otomotif memproduksi, mengembangkan, dan memasarkan produknya.