Tesla menunjukkan sinyal ambivalen dalam strategi ekspansinya di Asia Tenggara. Meskipun pernah dikabarkan serius untuk memperluas operasional di kawasan ini, Tesla kemudian membatalkan rencana pabrik di negara-negara seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Keputusan ini menunjukkan perubahan fokus Tesla terhadap investasi di wilayah tersebut, dari produksi lokal ke pengembangan infrastruktur pengisian daya listrik.
Salah satu langkah penting Tesla di Asia Tenggara adalah memperluas jaringan Supercharger. Laporan dari Antara menyebutkan bahwa Supercharger Tesla makin terbuka untuk kendaraan EV non-Tesla, dan perusahaan berencana menambah kabel berukuran lebih panjang di stasiun-stasiun pengisian agar bisa lebih fleksibel untuk mobil merek lain. Di wilayah Singapura, Tesla telah memasang Supercharger V4, memperkuat posisi mereka dalam infrastruktur EV regional.
Meski demikian, Tesla menghadapi tekanan besar dari kompetitor lokal di Asia Tenggara, terutama BYD. Di pasar global maupun regional, BYD semakin agresif dan dipandang sebagai pesaing utama Tesla. Persaingan ini makin terasa karena Tesla belum meluncurkan model EV murah secara masif, sedangkan BYD sudah menawarkan banyak varian dengan harga kompetitif.
Di sisi keuangan, Tesla juga mencatat penurunan kinerja yang bisa berdampak pada kemampuannya untuk ekspansi lebih jauh di Asia Tenggara. Per laporan kuartal I 2025, laba bersih Tesla anjlok hingga 71% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini diperparah oleh tekanan kompetitif dan kenaikan biaya, yang membuat Tesla lebih berhati-hati dalam mengalokasikan investasi di kawasan.
Kalau mau, bisa aku cek apa saja peluang Tesla untuk kembali ekspansi di Indonesia dalam 2–3 tahun ke depan berdasarkan tren EV dan kebijakan lokal — mau saya analisis?