Industri otomotif global terus bergerak cepat di tengah transisi ke kendaraan listrik (EV). Penjualan EV global diproyeksikan naik sekitar 30 persen pada 2025. Para analis dari S&P Global Mobility memperkirakan bahwa pasar EV berbasis baterai akan semakin dominan, meski tantangan seperti infrastruktur pengisian daya masih menjadi penghambat di beberapa wilayah.
Di sisi kebijakan dalam negeri, pemerintah Indonesia membuat langkah besar: insentif impor mobil listrik (CBU) akan dihentikan pada akhir 2025, mendorong para produsen EV untuk mulai memproduksi di dalam negeri. Kebijakan ini disambut positif oleh Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), yang melihatnya sebagai kesempatan untuk memperkuat industri komponen lokal sekaligus meningkatkan kapasitas teknologi lokal.
Sementara itu, Gaikindo mendesak agar pemerintah merancang kebijakan otomotif jangka panjang yang benar-benar mendukung elektrifikasi. Mereka menyoroti bahwa target produksi baterai electric vehicle (BEV) di dalam negeri hingga 2030 harus tidak hanya menjadi angka, tetapi diwujudkan secara konkrit melalui investasi dan dukungan teknologi. Transisi ke EV menurut Gaikindo harus melibatkan semua pihak, termasuk produsen hybrid dan mobil emisi rendah agar ekosistem otomotif Indonesia tetap kuat.
Di pasar global, produsen mobil listrik asal Cina terus memperkuat ekspansinya. Beberapa nama besar seperti BYD, Geely, dan Chery mendobrak pasar internasional dengan strategi berbeda-beda — ada yang fokus pada model murah, ada yang menargetkan segmen premium. Di tengah persaingan ini, CEO Kia juga sempat menyatakan bahwa perusahaan akan merilis mobil listrik yang lebih kecil dan terjangkau dalam waktu dekat. Kebijakan dan tren ini menunjukkan bahwa era mobil listrik semakin cepat mendominasi dunia otomotif.