Thailand merombak struktur pajak otomotif untuk mempertahankan investasi manufaktur di dalam negeri, setelah Indonesia menawarkan insentif bagi produsen yang memindahkan basis produksi.
Persaingan industri otomotif di Asia Tenggara memasuki babak baru. Thailand mulai merombak struktur pajak kendaraan dan industri otomotif untuk mendorong produsen tetap membangun fasilitas produksi di dalam negeri.
Langkah tersebut menjadi perhatian karena Indonesia juga sedang agresif menarik investasi otomotif. Bahkan, Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menawarkan insentif kepada Toyota agar memindahkan manufaktur utamanya dari Thailand ke Indonesia.
Situasi ini memperlihatkan bahwa persaingan Indonesia dan Thailand bukan lagi sekadar soal penjualan kendaraan, tetapi juga mengenai siapa yang mampu menjadi basis produksi otomotif utama di kawasan ASEAN.
Thailand Ubah Struktur Pajak Otomotif
Thailand sedang mempertimbangkan perubahan struktur pajak cukai kendaraan agar produsen yang berinvestasi dan membangun pabrik di negara tersebut mendapatkan perlakuan yang lebih menarik.
Menteri Keuangan Thailand menyampaikan bahwa perusahaan yang membangun fasilitas produksi dan menggunakan bahan baku atau komponen dari rantai pasok domestik dapat memperoleh tarif pajak yang lebih rendah. Sebaliknya, kendaraan yang hanya diimpor dalam kondisi utuh tanpa investasi produksi lokal berpotensi dikenakan pajak cukai lebih tinggi.
Rancangan tersebut diharapkan dapat membuat investasi manufaktur di Thailand semakin menarik sekaligus memperkuat penggunaan komponen lokal.
Pemerintah Thailand menargetkan kajian lengkap mengenai perubahan tersebut dapat diajukan kepada kabinet pada akhir September 2026.
Indonesia Mulai Menggoda Produsen dari Thailand
Langkah Thailand tidak bisa dilepaskan dari semakin agresifnya Indonesia dalam menarik investasi otomotif.
Pada awal Agustus 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka menawarkan insentif kepada Toyota jika perusahaan tersebut membawa manufaktur utama dari Thailand ke Indonesia.
Pemerintah Indonesia melihat peluang besar karena Indonesia memiliki pasar kendaraan yang besar sekaligus kapasitas industri otomotif yang terus berkembang. Purbaya juga mendorong agar perusahaan tidak hanya membawa pabrik kendaraan, tetapi turut membawa industri pendukung seperti baja, kimia, elektronik, logistik, dan jasa keuangan.
Jika tawaran tersebut menarik bagi produsen besar, dampaknya terhadap posisi Thailand sebagai basis produksi otomotif regional tentu bisa cukup signifikan.
Thailand Tidak Ingin Kehilangan Industri Otomotif
Bagi Thailand, industri otomotif memiliki posisi strategis dalam perekonomian. Karena itu, mempertahankan investasi manufaktur menjadi salah satu prioritas.
Perubahan pajak tersebut bukan hanya ditujukan kepada kendaraan listrik atau satu jenis teknologi tertentu. Kebijakan yang sedang dikaji mencakup produsen kendaraan listrik, hybrid, maupun kendaraan bermesin pembakaran internal selama perusahaan tersebut berinvestasi, memproduksi kendaraan, dan menciptakan lapangan kerja di Thailand.
Dengan pendekatan tersebut, Thailand berusaha menjaga agar transisi menuju kendaraan listrik tidak membuat industri otomotif konvensional dan rantai pasok yang sudah terbentuk kehilangan daya saing.
Insentif Berbasis Produksi Lokal
Salah satu perubahan penting adalah arah kebijakan pajak yang semakin menghubungkan keuntungan fiskal dengan aktivitas produksi di dalam negeri.
Artinya, produsen yang hanya menjadikan Thailand sebagai pasar penjualan tidak mendapatkan keuntungan yang sama dengan perusahaan yang membangun pabrik dan menggunakan komponen lokal.
Skema seperti ini memiliki dua tujuan sekaligus.
Pertama, mempertahankan investasi manufaktur. Kedua, meningkatkan penggunaan komponen buatan Thailand sehingga industri pemasok lokal ikut mendapatkan manfaat.
Thailand sebelumnya juga telah memberikan berbagai insentif untuk mendorong investasi kendaraan hybrid dan teknologi kendaraan listrik. Data Krungsri Research menunjukkan nilai persetujuan investasi di rantai pasok otomotif Thailand mencapai 21,7 miliar baht pada kuartal pertama 2026, naik 45,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Thailand Ingin Memperkuat Rantai Pasok Lokal
Persaingan mendapatkan pabrik otomotif pada akhirnya tidak hanya mengenai siapa yang memberikan pajak lebih rendah.
Produsen juga mempertimbangkan keberadaan pemasok komponen, tenaga kerja, infrastruktur, pelabuhan, jaringan logistik, hingga kemampuan industri lokal.
Karena itu, Thailand memberikan perhatian besar terhadap pengembangan rantai pasok dalam negeri.
Board of Investment Thailand bahkan memiliki skema yang mendorong pembentukan perusahaan patungan Thailand-asing di industri komponen otomotif. Program tersebut memberikan tambahan insentif pajak untuk proyek yang memenuhi persyaratan tertentu.
Strategi ini menunjukkan bahwa Thailand berusaha mempertahankan bukan hanya pabrik perakitan kendaraan, tetapi juga ekosistem industri yang berada di belakangnya.
Indonesia Punya Modal Pasar yang Besar
Di sisi lain, Indonesia memiliki keunggulan yang membuatnya menarik bagi produsen otomotif.
Salah satu faktor terbesarnya adalah pasar domestik. Indonesia merupakan salah satu pasar kendaraan terbesar di Asia Tenggara sehingga produsen memiliki alasan kuat untuk menjadikan negara ini sebagai basis produksi sekaligus pasar utama.
Pemerintah Indonesia juga ingin meningkatkan kapasitas manufaktur dan memperluas rantai pasok domestik.
Tawaran insentif kepada Toyota menunjukkan bahwa Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar kendaraan, tetapi juga ingin mendapatkan porsi produksi yang lebih besar dari industri otomotif regional.
Persaingan Indonesia dan Thailand Makin Sengit
Perubahan kebijakan Thailand menunjukkan bahwa persaingan mendapatkan investasi otomotif semakin sengit.
Jika sebelumnya perusahaan memilih lokasi produksi berdasarkan biaya tenaga kerja, kedekatan dengan pemasok, pasar, dan infrastruktur, kini kebijakan pajak serta insentif pemerintah juga menjadi faktor yang semakin penting.
Thailand berusaha mempertahankan keunggulannya sebagai basis manufaktur otomotif yang sudah lama berkembang. Sementara Indonesia berusaha menggunakan ukuran pasar dan potensi pengembangan industri domestik untuk menarik investasi baru.
Keduanya memiliki keunggulan masing-masing.
Kendaraan Listrik Mengubah Peta Persaingan
Perubahan teknologi kendaraan juga membuat persaingan semakin kompleks.
Produsen global kini harus memikirkan investasi kendaraan listrik, hybrid, baterai, motor listrik, inverter, hingga komponen elektronik.
Thailand telah menarik investasi besar dalam ekosistem kendaraan listrik. Namun, menurut Krungsri Research, pada kuartal pertama 2026 tidak terdapat tambahan persetujuan investasi baru untuk produksi BEV karena sejumlah produsen China telah lebih dahulu membangun fasilitas perakitan di Thailand melalui skema EV 3.0 dan EV 3.5.
Kondisi tersebut membuat Thailand mulai mengarahkan perhatian lebih besar pada pengembangan rantai pasok komponen kendaraan listrik.
Apakah Pabrik Otomotif Benar-Benar Akan Pindah?
Perubahan pajak Thailand dan tawaran insentif Indonesia memang menunjukkan adanya perebutan investasi, tetapi belum berarti seluruh pabrik otomotif akan segera pindah dari Thailand ke Indonesia.
Keputusan relokasi fasilitas manufaktur membutuhkan pertimbangan yang sangat kompleks.
Produsen harus memperhitungkan investasi pabrik, tenaga kerja, pemasok, logistik, kapasitas produksi, akses pasar, kebijakan perdagangan, hingga biaya memindahkan rantai pasok.
Karena itu, kebijakan pajak lebih tepat dilihat sebagai alat untuk memengaruhi keputusan investasi baru maupun ekspansi produksi, bukan sebagai jaminan bahwa perusahaan tertentu pasti memindahkan pabriknya.
Thailand Harus Bergerak Cepat
Perubahan kebijakan pajak menjadi sinyal bahwa Thailand menyadari adanya tekanan kompetitif baru.
Jika Indonesia semakin agresif menawarkan insentif, Thailand harus memastikan biaya dan keuntungan berinvestasi di negaranya tetap menarik.
Apalagi, industri otomotif sedang mengalami perubahan besar akibat elektrifikasi dan masuknya produsen baru dari China.
Jika Thailand berhasil membuat investasi produksi lokal lebih menarik, negara tersebut dapat mempertahankan posisinya sebagai salah satu pusat otomotif utama ASEAN.
Indonesia Juga Harus Membuktikan Diri
Di sisi lain, Indonesia tidak cukup hanya memberikan insentif.
Untuk benar-benar menarik pabrik besar dari Thailand, Indonesia perlu memastikan bahwa investor mendapatkan ekosistem manufaktur yang kompetitif dalam jangka panjang.
Ketersediaan pemasok lokal, kualitas tenaga kerja, infrastruktur, kepastian regulasi, efisiensi logistik, dan kecepatan pelayanan investasi akan menjadi faktor penting.
Dengan kata lain, insentif bisa menarik investor untuk datang, tetapi ekosistem industri yang kuat membuat mereka bertahan.
Kesimpulan
Thailand cegah pabrik otomotif pindah ke Indonesia dengan merombak struktur pajak menjadi gambaran semakin ketatnya persaingan industri otomotif di Asia Tenggara.
Thailand kini mempertimbangkan tarif pajak yang lebih rendah bagi produsen yang membangun fasilitas produksi dan menggunakan komponen lokal, sementara kendaraan yang hanya diimpor tanpa investasi manufaktur berpotensi menghadapi pajak lebih tinggi.
Langkah tersebut muncul ketika Indonesia semakin agresif menawarkan insentif untuk menarik investasi manufaktur dari Thailand, termasuk ajakan kepada Toyota untuk membawa produksi utamanya ke Indonesia.
Pada akhirnya, persaingan kedua negara akan sangat ditentukan oleh kemampuan masing-masing membangun ekosistem otomotif yang lengkap, kompetitif, dan berkelanjutan.
Jika Thailand berhasil mempertahankan basis industrinya sementara Indonesia terus meningkatkan daya tarik investasi, persaingan otomotif ASEAN dalam beberapa tahun ke depan dipastikan akan semakin menarik untuk disimak.
Thailand Cegah Pabrik Otomotif Pindah ke Indonesia dengan Merombak Struktur Pajak
Program Motor Listrik Nasional Bisa Acak-acak Pasar Roda Dua
Harga BBM Pertamax Turun Rp. 300 perak per Liter
Penjualan Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport Menurun
Lamborghini Temerario Segera Hadir di Indonesia, Bawa Teknologi Hybrid dan Mesin V8
Wuling Laku Keras di Pameran GIIAS 2026
Teknologi Daihatsu Rocky Hybrid yang Bikin Irit BBM
Harga BBM di Semua SPBU Pertamina Turun, Berlaku Mulai 6 Agustus 2026
Chery Perkenalkan Tiggo V di GIIAS 2026, SUV Kompak dengan Teknologi Modern dan Desain Futuristis